PT. Perkebunan Nusantara XIII As a Knowledge-Based Agribusiness Company
Bahasa : en / id

21 Agustus 2013 - 11:04:42 | Unit Kerja : | by : | views : 394

Ekspor Sawit ke Pakistan US$ 1,5 Miliar

[JAKARTA] Nilai ekspor produk sawit dan turunannya ke Pakistan ditaksir bisa mencapai US$ 1,5 miliar (Rp 15,47 triliun) pada 2014. Angka ini naik lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun 2012.  

Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi mengatakan, angka US$ 1,5 miliar itu dapat dengan mudah dicapai setelah penandatanganan kesepakatan kerja sama perdagangan Preferential Trade Agreement (PTA) dengan Pakistan selesai. "Mudah-mudahan dalam hitungan hari atau minggu, kesepakatan dengan Pakistan akan kita tanda tangani," kata Bayu di Jakarta, Kamis (15/8).  

Bayu meyakini, penandatangan kerja sama itu akan memberikan keuntungan bagi ekspor produk sawit nasional. Selama ini, Pakistan merupakan salah satu negara tujuan ekspor utama Indonesia untuk produk sawit dan turunannya.  

Dia mencontohkan, sepanjang 2012, ekspor produk sawit nasional ke Pakistan mencapai US$ 714 juta. Dengan adanya kerja sama perdagangan dengan Pakistan, ekspor produk sawit Indonesia sepanjang 2013 berpeluang bertambah US$ 200-300 juta dibandingkan tahun sebelumnya.  

"Pada tahun 2014 bayangan kita bisa diproyeksikan ekspor komoditas itu ke Pakistan maupun ke negara lain yang melalui Pakistan mencapai US$ 1,5 miliar, atau dua kali lebih besar daripada potensi 2012," kata dia.  

Sebelumnya, perundingan kerja sama perdagangan Indonesia-Pakistan dalam kerangka PTA sempat dihentikan karena adanya hambatan kebijakan ekspor impor kedua negara. Tetapi, kedua pihak telah sepakat untuk kembali melanjutkan perundingan tersebut, dan akan ditandatangani pada pertengahan Agustus 2013.  

Sebenarnya, Indonesia-Pakistan sudah melakukan penandatanganan kerja sama perdagangan PTA yang berlaku sejak Januari 2013 lalu. Namun, perjanjian tersebut urung diimplementasikan karena berbagai hal, salah satunya terganjal rencana ekspor jeruk Kino oleh Pakistan ke Indonesia akibat adanya pembatasan pintu masuk produk hortikultura yang diberlakukan pemerintah Indonesia. Pakistan menginginkan agar pengiriman komoditas tersebut melalui pelabuhan Tanjung Priok.  

"Begitu kerja sama PTA ini ditandantangani dan berjalan, kita akan bisa dapatkan benefit dari ekspor sawit dan produk sawit," ujar Bayu.  

Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Fadhil Hasan sebelumnya mengungkapkan, menjelang Ramadhan tahun ini, permintaan CPO dan turunannya naik cukup signifikan ke Pakistan yang merupakan negara berpenduduk mayoritas muslim.  

Volume ekspor ke Pakistan melonjak 150% lebih dari 17,25 ribu ton pada bulan lalu naik menjadi 44,25 ribu ton. Ekspor CPO ke Pakistan saat ini masih rendah, hanya 44.250 ton. Meningkatnya permintaan Pakistan karena jelang hari raya Idul Fitri yang mana konsumsi pangan akan lebih tinggi dari pada bulan biasa.  

Fadhil juga mengungkapkan, harga CPO di pasar dunia masih relatif stagnan. Pada Juni-pertengahan Juli 2013, harga CPO masih berada di kisaran US$ 835-880 per ton atau naik sangat kecil dibandingkan Mei 2013 yang di kisaran US$ 828-865 per ton. Pada minggu ketiga Juni 2013 harga CPO naik menjadi US$ 870-880 per ton. Namun demikian, kenaikan tersebut tidak bertahan lama, sebab pada minggu keempat Juni 2013 harga kembali tergerus ke level US$ 835-855 per ton. [Ant/H-12]

http://www.suarapembaruan.com/ekonomidanbisnis/ekspor-sawit-ke-pakistan-us-15-miliar/40119



Berita : Terkait