PT. Perkebunan Nusantara XIII As a Knowledge-Based Agribusiness Company
Bahasa : en / id

30 Desember 2014 - 09:49:23 | Unit Kerja : Kantor Direksi | by : marihot | views : 782

Pemerintah Obral Lahan ke Kelompok Tertentu

JAKARTA – Pemerintah mengobral lahan bagi kelompok usaha tertentu hingga jutaan hektare, namun petani untuk mendapatkan lahan 1 hektare saja susah. Tujuh grup dari dalam negeri maupun mancanegara diperkirakan menguasai 3,31 juta hektare lahan, dengan yang terluas adalah Sinar Mas Group yang memiliki konsesi sekitar 1,55 juta hektare.

Konsesi Sinar Mas itu terdiri atas 1,08 juta hektare untuk hutan dan 470 ribu hectare perkebunan sawit. Sementara itu, Royal Golden Eagle (RGE) milik Sukanto Tanoto diperkirakan memiliki konsesi 610 ribu hektare, terdiri atas lahan hutan sekitar 450 ribu hektare dan perkebunan sawit 160 ribu hektare.

Sedangkan Astra Agro Lestari memiliki 233,9 ribu hektare perkebunan sawit, Salim Ivomas Pratama 240 ribu hektare, Sampoerna Agro 233,22 ribu hektare, Wilmar dari Malaysia diperkirakan 241 ribu hektare, dan anak perusahaan Sime Darby Berhad dari Malaysia sekitar 200 ribu hektare.

“Hal itu terjadi karena pemerintah mengobral lahan bagi perusahaan besar dan cenderung melupakan hak masyarakat. Dalam perkebunan kelapa sawit misalnya, kami memperkirakan lahan seluas 7 juta ha hanya dimiliki oleh 27 grup perusahaan, di antaranya Sinar Mas, Royal Golden Eagle (dulu bernama Raja Garuda Mas), Salim, Wilmar, Bakrie, Rajawali, dan Triputra. Lahan itu berada di Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi,” kata Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Abetnego Tarigan kepada Investor Daily di Jakarta, pekan lalu.

Golden Agri-Resources Ltd dari Sinar Mas Group kini menjadi salah satu perusahaan sawit terbesar di dunia. Berdasarkan laporan keuangan perusahaan yang tercatat di bursa efek Singapura, Golden Agri memiliki pendapatan US$ 5,80 miliar (Rp 72,5 triliun) pada Januari-September 2014, atau naik 24% dibanding periode sama 2013. Laba bersih juga cemerlang, mencapai US$ 135 juta atau melonjak 28% dibanding sembilan bulan pertama tahun lalu. Pertumbuhan laba tersebut lebih tinggi dari kenaikan produksi produk sawit 14%, menjadi 2,23 juta ton. Sedangkan harga jual minyak sawit mentah atau CPO-nya rata-rata US$ 721 per ton.

http://id.beritasatu.com/agribusiness/pemerintah-obral-lahan-ke-kelompok-tertentu/103493