PT. Perkebunan Nusantara XIII As a Knowledge-Based Agribusiness Company
Bahasa : en / id

16 September 2015 - 11:43:16 | Unit Kerja : Kantor Direksi | by : marihot | views : 843

Ini Penyebab Permintaan CPO Dari Negara Tujuan Ekspor Utama Turun

Bisnis.com, JAKARTA – Negara-negara tujuan ekspor utama CPO Indonesia menunjukkan penurunan yang cukup signifikan. Untungnya, sejumlah negara lainnya meningkatkan permintaan.

Berdasarkan laporan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), Selasa (15/9/2015), ekspor minyak sawit ke Eropa pada Agustus 2015 turun 30% dibandingkan bulan sebelumnya, atau dari 380,13 ribu ton pada Juli turun menjadi 264,55 ribu ton pada Agustus.

Rendahnya permintaan Uni Eropa dipicu oleh jatuhnya harga minyak biji-bijian khususnya kedelai yang merupakan minyak nabati yang lebih populer dan minyak nabati yang utama digunakan di negara-negara Uni Eropa sehingga pangsa pasar diambil alih oleh minyak kedelai.

Penurunan permintaan minyak sawit diikuti oleh China, yang mencatatkan penurunan sebesar 26% atau dari 407,33 ribu ton pada Juli menjadi 301,47 ribu ton pada Agustus. Hal yang sama juga diikuti India yang membukukan penurunan 19% atau dari 427,34 ribu ton pada Juli turun menjadi 355,49 ribu ton pada Agustus.

Negeri Tirai Bambu menurunkan impor minyak sawitnya karena lesunya ekonomi di negara tersebut. Pertumbuhan ekonomi yang melambat menjadi pemicu utama dan diikuti juga devaluasi mata uang Negeri Panda ini.

Hal yang sama juga terjadi di negeri Bollywood, pertumbuhan yang melambat menjadi penyebab lesunya daya beli. Pasar minyak sawit Indonesia yang terus menunjukkan peningkatan permintaan datang dari Amerika Serikat (AS).

 AS dan Bangladesh

Ekspor minyak sawit Indonesia ke AS pada Agustus meningkat 60% dibanding Juli, atau dari 58,7 ribu ton di Juli meningkat menjadi 93,65 ribu ton pada Agustus.

Pemberlakuan efektif pelarangan penggunanan trans fat atau lemak trans dalam produk makanan oleh Badan Administrasi Obat dan Makanan (Food and Drug Administration–FDA) telah mendongkrak permintaan minyak sawit dari Negeri Paman Sam karena minyak sawit adalah salah satu minyak yang tidak mengandung lemak trans sehingga menjadi alternatif pengganti minyak nabati lain yang mengandung lemak trans. Harga yang murah dibandingkan dengan minyak nabati lainnya juga menjadi faktor pendorong kenaikan permintaan.

Pada Agustus ini Bangladesh membukukan permintaan yang sangat signifikan untuk minyak sawit dari Indonesia. Agustus ini Bangladesh mengerek impor minyak sawit dari Indonesia sebesar 257% atau dari 47 ribu ton pada Juli naik menjadi 167,55 ribu ton pada Agustus.

Meningkatnya permintaan yang signifikan dari Bangladesh karena stok minyak nabati di dalam negeri yang sudah menipis dan pada saat yang sama harga minyak sawit sedang pada level terendah sehingga traders Bangladesh mengambil kesempatan untuk membeli minyak sawit lebih banyak daripada biasanya.

http://industri.bisnis.com/read/20150915/99/472702/ini-penyebab-permintaan-cpo-dari-negara-tujuan-ekspor-utama-turun



Berita : Terkait