PT. Perkebunan Nusantara XIII As a Knowledge-Based Agribusiness Company
Bahasa : en / id

29 February 2016 - 09:20:08 | Unit Kerja : Kantor Direksi | by : marihot | views : 977

Sektor Perkebunan Masih Temaram

JAKARTA. Kala harga saham emiten pertambangan mulai merangkak naik, emiten komoditas sektor perkebunan masih menurun. Sepanjang tahun ini, saham perkebunan masih minus 2,15%.
 
Tahun lalu, profit emiten perkebunan sulit tumbuh lantaran harga crude palm oil (CPO) memble. Para analis memperkirakan, ekonomi tahun ini membaik. Harga minyak yang mulai terlihat menyentuh dasar dan rebound diprediksi menjadi sentimen positif bagi harga CPO.
 
William Surya Wijaya, Analis Asjaya Indosurya Securities, mengatakan, perlambatan ekonomi dunia menekan permintaan tahun lalu. Namun harga CPO dinilai mulai stabil, meski belum melonjak tajam. "Dari sisi cuaca juga terlihat lebih baik dari tahun lalu," kata William.
 
Kinerja emiten CPO melorot tahun lalu. PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) hanya mencetak pendapatan Rp 4,18 triliun, turun 11,36% ketimbang tahun 2014. Laba bersihnya turun 33,9% menjadi Rp 623,3 miliar. Margin laba LSIP anjlok dari 19,3% menjadi 14,9%.
 
Penjualan PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP) turun 8% menjadi Rp 13,84 triliun pada periode yang sama. Laba bersih SIMP juga anjlok hingga 69% menjadi Rp 264 miliar.
 
Awal tahun ini, penjualan CPO mulai terlihat meningkat. Misalnya saja, PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) menjual 74.000 ton CPO pada Januari 2016, tumbuh 10,4% ketimbang Januari 2015. Lalu, penjualan olein melonjak hampir 16 kali lipat dari posisi Januari 2015.
 
Sementara penjualan kernel tumbuh 30% menjadi 30.460 ton ketimbang Januari 2015. Meski demikian, harga jual rata-rata CPO AALI masih turun 21% menjadi Rp 6.226 per kilogram.
 
Menurut William, beberapa emiten mulai mendapat dorongan dari diversifikasi usaha ke sektor hilir. "Karena potensi ini, harga saham emiten CPO mulai bisa dibeli dalam jangka pendek," imbuh Wiliam.
 
Namun, Hans Kwee, Direktur Investa Saran Mandiri, mengatakan, bullish-nya sektor pertambangan akan lebih cepat ketimbang perkebunan. Sektor kebun masih akan flat karena belum banyak insentif pemerintah yang bisa mendorong profit emiten.
 
"Agustus dan September sudah akan panen lagi. Jadi harga nampaknya sulit untuk beranjak," imbuh Hans. Sementara konsumsi CPO beberapa negara mulai susut. Misalnya Tiongkok, yang mulai memilih minyak kedelai.
 
William menilai, prospek beberapa saham, seperti LSIP dan SSMS masih menarik dibeli dengan target harga masing-masing Rp 2.150 dan Rp 2.300 per saham. Dia merekomendasi tahan untuk AALI dengan target Rp 20.000.
 
Hans melihat, saham-saham komoditas perkebunan sebaiknya dihindari. Namun, Analis JP Morgan Aditya Srinath dalam riset 26 Februari 2016 memberi prospek overweight saham AALI dengan target Rp 22.420.
 
http://investasi.kontan.co.id/news/sektor-perkebunan-masih-temaram



Berita : Terkait