PT. Perkebunan Nusantara XIII As a Knowledge-Based Agribusiness Company
Smoke
CPO

03 November 2016 - 07:26:13 | Unit Kerja : Kantor Direksi | by : uud | views : 832

EKSPOR MELESU, HARGA CPO TERKOREKSI WAJAR


02 November 2016,

Jakarta, Harga minyak kelapa sawit (CPO) kembali terkoreksi tipis akibat menurunnya ekspor dari Malaysia yang mengindikasikan melemahnya permintaan. Namun demikian, nilai jual diprediksi masih bergerak stabil hingga akhir tahun seiring dengan kuatnya faktor fundamental.

Pada penutupan perdagangan bursa Malaysia Selasa (1/11), harga CPO untuk kontrak teraktif Januari 2017 menurun 31 poin atau 1,12% menuju 2.732 ringgit (US$649,86) per ton. Ini menunjukkan harga sudah meningkat 6,93% sepanjang tahun berjalan.

Gnanasekar Thiagarajan, head of trading and hedging strategies Kaleesuwari Intercontinental Singapore, menyampaikan melemahnya tingkat ekspor terkini meningkatkan kekhawatiran atas melemahnya permintaan global. Alhasil harga kembali mengalami tekanan.

Berdasarkan data surveyot kargo Societe Generale de Surveillance (SGS), pengiriman CPO dari Malaysia pada tanggal 1--30 Oktober sejumlah 1,29 juta ton, turun 5,1% dari periode yang sama bulan sebelumnya sebesar 1,36 juta ton.

Adapun menurut catatan Intertek Testing Services (ITS), ekspor CPO Malaysia per tanggal 1--31 Oktober sejumlah 1,28 juta ton merosot 6,45% dari periode yang sama bulan sebelumnya sebesar 1,37 juta ton.

“Penurunan ekspor meningkatkan kekhawatiran prospek permintaan sehingga harga melemah,” ujarnya seperti dikutip dari Bloomberg, Selasa (1/11).

Di sisi lain, tingginya harga juga berpotensi memicu aksi ambil untung (profit taking). Pada Oktober 2016, harga CPO naik 4,8% yang membuat peningkatan komoditas berlangsung selama tiga bulan berturut-turut.

Tren tersebut menjadi pencapaian beruntun secara bulanan terpanjang sejak Desember 2013. Dalam sepuluh bulan pertama 2016, harga CPO berhasil tumbuh 10%.

Wahyu Tribowo Laksono, Analis Central Capital Futures, menyampaikan harga CPO cenderung masih kuat karena positifnya fundamental. Pada September, rerata harga bahkan mencapai 2.862 ringgit per ton.

Dalam sembilan bulan pertama 2016, rerata harga CPO berada di 2.556 ringgit per ton, naik dari periode yang sama pada tahun sebelumnya sebesar 2.150,5 ringgit per ton. Koreksi yang terjadi dalam waktu dekat akibat penurunan ekspor masih terbilang wajar, karena masih di atas level 2.700 ringgit per ton.

Dalam sepekan harga CPO diprediksi bergulir dalam rentang 2.600—2.900 ringgit per ton. Jika berhasil rebound dari 2.700 ringgit dan bertahan di atas 2.800, maka level 3.000 jelas terbuka untuk bisa terkejar pada tahun ini.

“[Harga] masih akan naik, rekomendasi tetap beli. Faktor utamanya fundamental CPO masih positif. Produksi turun akibat El Nino, sedangkan permintaan global seperti masih bagus,” tuturnya saat dihubungi Bisnis.com, Selasa (1/11/2016).


Sumber : http://market.bisnis.com/read/20161101/94/598039/ekspor-melesu-harga-cpo-terkoreksi-wajar