PT. Perkebunan Nusantara XIII As a Knowledge-Based Agribusiness Company
Bahasa : en / id
Smoke
Ilustrasi

30 Januari 2017 - 08:21:01 | Unit Kerja : Kantor Direksi | by : uud | views : 160

Teknologi Biogas, Pilih Cover Lagoon Atau Reaktor?

Berita Utama | 30 January 2017 | Administrator
img

INFO SAWIT, JAKARTA – Dorongan untuk memanfaatkan gas methane terus meningkat, terlebih isu gas rumah kaca dan pemanasan global acapkali dikaitkan dengan pesatnya pertumbuhan industri kelapa sawit nasional.

Kini penggunaan methane untuk energi (biogas) mulai banyak dilakukan perusahaan kelapa sawit nasional. Bahkan saat ini mulai berkembang dua teknologi biogas yakni dengan penggunaan cover lagoon dan reaktor, berikut informasi mengenai kedua teknologi tersebut.

Kendati merupakan teknologi awal yang dikenalkan sebagai teknologi yang dapat mengubah gas methane menjadi energi biogas, namun teknologi cover lagoon memiliki beberapa kekurangan yang dapat menghambat produksi biogas bisa maksimal. Beberapa kekurangan yang didapat, antara lain, umur penggunaan cover lagoon yang hanya mampu bertahan sekitar 5-7 tahun saja.

Di sisi lain, produksi yang dilakukan PKS, biasanya cenderung meningkat dan berkelanjutan mengikuti hasil panen yang kian menanjak. Seringkali terjadi, ketika hasil panen memuncak, tapi mengalami persoalan akibat melemahnya lagoon yang digunakan, sehingga harus dilakukan perbaikan segera.

Tentu saja, akibat melemahnya cover lagoon, maka daya tangkap gas methane menjadi berkurang, sehingga produksi biogas yang dihasilkan menjadi berkurang pula. Alhasil, target produksi biogas yang dihasilkan bakalan tidak tercapai. Biasanya, keberadaan melemahnya cover lagoon menjadi alasan bagi perusahaan untuk tidak melanjutkan operasinya.

Sedangkan penggunaan teknologi tambahan lainnya, seperti mesin pembangkit hingga konverter energi relatif sama dan sangat tergantung dengan asal mesin yang digunakan (merk mesin). Tentu saja, keberadaan teknologi cover lagoon masih membutuhkan alternatif lainnya, untuk memastikan keberhasilan alat yang mampu menangkap gas methane dengan lebih baik.

Teknologi Reaktor

Selain cover lagoon, terdapat teknologi bogas lainnya yakni dengan penggunaan teknologi reaktor. Teknologi ini diyakini mumpuni digunakan sebagai intalasi pembangkit listrik terbarukan. Tentu saja, teknologi reaktor akan mampu menjadi pembangkit gas terbarukan yang ramah lingkungan.

Penggunaan tanki pre-treatment  yang dilengkapi buffer tank merupakan perangkat utama yang digunakan sebelum POME dialirkan masuk kedalam reaktor. Keberadaan reaktor, untuk memastikan hasil zero pond, zero pollution dan higher biogas yang mumpuni, sehingga hasil biogas dapat digunakan sebagai bahan baku energi terbarukan.

Hasil pengelolaan POME melalui seperangkat reaktor ini, secara langsung dapat mengelola BOD yang dihasilkan PKS sehingga berkurang drastis hingga sebesar 20 mg/l saja. Tentu saja, pengelolaan limbah POME melalui teknologi reaktor, sangat membantu PKS mereduksi limbah PKS yang dihasilkan sehingga aman bagi lingkungan sekitarnya.

Bila dibandingkan dengan penggunaan teknologi biomasa lainnya, penggunaan teknologi reaktor terbilang lebih unggul pula. Pasalnya, penggunaan teknologi reaktor, mampu mengelola limbah POME sebagai bahan baku menjadi energi baru dan terbarukan. Limbah POME yang mengandung gas methane, mampu diolah menjadi energi baru biogas dan terus dihasilkan.

Siklus energi terbarukan, yang mampu terus mengelola limbah yang dihasilkan PKS menjadi energi baru dan terbarukan, menjadi kunci sukses penggunaan teknologi reaktor dewasa ini. Teknologi reaktor, juga terbilang tahan lama, pasalnya mampu digunakan hingga selama 20 tahun lebih secara berkelanjutan.

Tentu saja, bila dibandingkan secara singkat, daya tahan penggunaan teknologi reaktor jauh lebih unggul, dibandingkan teknologi cover lagoon. Itulah sebabnya, dibeberapa negara yang terlebih dahulu menggunakan cover lagoon, secara perlahan-lahan sudah mulai melakukan konversi menggunakan teknologi reaktor.

Teknologi reaktor juga memiliki keunggulan lebih bila dibandingkan dengan sumber energi lainnya, seperti panas matahari, angin dan air. Pasalnya, teknologi reaktor digunakan untuk mengelola sumber bahan baku yang berupa limbah industri. Sehingga, teknologi reaktor sangat membantu industri dalam mengelola limbah merugikan menjadi sumber energi baru dan terbarukan dengan hasil produksi yang relatif lebih stabil.

Sebaliknya, sumber energi panas matahari, angin dan air hanya mampu mengelola sumber bahan baku yang gratis didapatkan dari alam, tanpa memiliki kelebihan sebagai pengelola limbah industri. Sebab itu, teknologi reaktor termasuk generasi kedua atau generasi lanjutan yang mampu menghasilkan sumber energi terbarukan sekaligus. (T1)



Berita : Terkait