PT. Perkebunan Nusantara XIII As a Knowledge-Based Agribusiness Company
Bahasa : en / id
Smoke
Ilustrasi

16 Juni 2017 - 09:43:44 | Unit Kerja : Kantor Direksi | by : uud | views : 538

Ini Alasan BPDP-KS Pilih Fokus Biodiesel

16 June 2017 | Administrator

InfoSAWIT, PANGKAL PINANG - Akhir-akhir ini ada anggapan BPDP-KS seolah menjadi lembaga bentukan pemerintah yang berpihak kepada pelaku usaha. Anggapan ini bisa saja diterima apalagi bila dilihat dari alokasi pendanaan yang ada di BPDP-KS sebanyak 90% digunakan untuk menopang pembiayaan selisih harga tingginya biodiesel dengan minyak solar berbasis fosil. Pembayaran selisih harga oleh BPDP-KS ini dimaksud supaya harga minyak solar dengan biodiesel memiliki harga yang sama ketika dipasarkan ke masyarakat lewat Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU).

Alasan lain hampir seluruh uang yang didapat dari pungutan ekspor CPO itu mayoritas untuk biodiesel, tidak lain sebagai upaya untuk menumbuhkan industri biodiesel nasional sekaligus untuk menciptakan permintaan pasar baru di domestik dalam waktu yang relatif cepat. “Untuk meng creat demand secepat-cepatnya, yang paling mungkin dilakukan adalah menerapkan program mandatori biodiesel,” kata Direktur Utama BPDP-KS, Dono Boestami.

Cara yang ditempuh pemerintah berdasarkan koordinasi dengan pelaku usaha ini juga sebagai upaya pemerintah dalam memutus ketergantungan penggunaan minyak fosil yang didapat dari impor. “Kita tidak ingin lagi tergantung terhadap fosil fuel, langkah ini juga jadi membuat negara lain khawatir,” katanya.

Padahal sebelumnya biodiesel sawit acap diacuhan pemerintah dalam pengembangannya. Sebab kebijakan bodiesel sudah ada semenjak 2006 silam. Adanya tarik ulur kebijakan juga menjadi salah satu musabab program biodiesel yang telah mandatori semenjak 2009 pun tidak pernah mencapai target.

Dari catatan InfoSAWIT, rata-rata target serapan biodiesel untuk transportasi yang sifatnya untuk masyarakat umum atau Public Service Obligation (PSO) dan non PSO (tidak bersubsidi), sepanjang periode 2009 sampai 2014 realisasi capaian targetnya hanya rata-rata sekitar 34%. Dimana capaian realisasi tertinggi pada tahun 2014 lalu yang mencapai 60,5% atau sebanyak 1,84 juta KL, dari target serapan sekitar 2,52 juta KL.

Dengan konsistensi industri kelapa sawit yang mampu menjadi tulang punggung perekonomain Indonesia dalam dekade terakhir, membuat arah kebijakan pemerintah pun berubah. Menyusul adanya kekhawatiran kontribusi komoditas kelapa sawit nasional bakal anjlok akibat terus tergerusnya harga minyak sawit di dunia, dan disaat bersamaan pendapatan pemerintah juga sedang melempem, maka biodiesel pun menjadi pilihan.

Sekedar mengingatkan kembali, adapun latar belakang lain dibentuknya BPDP Sawit adalah akibat merosotnya harga CPO sejak Juni 2014, yakni dari harga US$ 800/ton menjadi  hanya sekitar US$ 500/ton di Februari 2015. Komisaris Wilmar group, MP Tumanggor, kala itu mengungkapkan salah satu solusi yang dianggap terbaik untuk menghindari agar jangan terjadi penurunan harga adalah dengan melakukan peningkatan penggunaan FAME (Biodiesel) di dalam negeri. (baca InfoSAWIT edisi Februari 2016, Mimpi Buruk Biodiesel).

Maka di 2015, gagasan untuk membuat lembaga pengelolaan dana dari sawit untuk sawit dilontarkan. Apalagi serapan biodiesel di tahun tersebut tercatat rendah, sekitar 863 ribu KL. Kondisi  ini terjadi juga akibat adanya tudingan dumping biodiesel oleh pihak Uni Eropa, sehingga sepanjang 2015 lalu persis tidak ada kegiatan ekspor biodiesel. (T2)

Sumber http://www.infosawit.com/news/6563/ini-alasan-bpdp-ks-pilih-fokus-biodiesel



Berita : Terkait