PT. Perkebunan Nusantara XIII As a Knowledge-Based Agribusiness Company
Bahasa : en / id
Smoke
Tandan Buah Sawit

02 Agustus 2017 - 08:05:10 | Unit Kerja : Kantor Direksi | by : uud | views : 399

Sawit Bukan Dari Membuka Hutan

02 August 2017 | Administrator

InfoSAWIT, JAKARTA - Akhir-akhir ini kembali muncul beragam tudingan yang memojokan industri kelapa sawit nasional. Bahkan ada yang mengklaim bahwa industri kelapa sawit nasional telah menjadi sumber bagi rusaknya kawasan hutan primer.

Entah tudingan itu berdasarkan fakta merujuk riset secara menyeluruh atau hanya klaim dari sebagian kecil kasus, namun demikian dikatakan Dewan Pakar Persatuan Sarjana Kehutanan Indonesia (Persaki) Petrus Gunarso, memastikan bahwa industri kelapa sawit tumbuh bukan dengan cara membuka hutan alam primer, lantaran merujuk penelitian yang telah dilakukannay tahun 2010 lalu di tiga negara, Indonesia, Malaysia dan Papua New Guinena, untuk kasus di Indonesia hutan alam primer yang benar-benar awalnya dibuka untuk pembangunan kebun sawit hanya sekitar 0,2%. “Sebab yang paling banyak, orang membongkar kebun karet campuran mereka menjadi kebun sawit,” katanya kepada InfoSAWIT, belum lama ini di Jakarta.

Kondisi demikian, lebih lanjut tutur Petrus Gunarso, hampir serupa dengan kejadian di Malaysia. Terjadinya perubahan (konversi) lahan karet menjadi sawit lebih banyak didorong oleh faktor ekonomi. Disaat harga komoditas karet belum juga ada tanda-tanda membaik, para pemilik lahan akhirnya memutuskan untuk menggantinya menjadi tanaman kelapa sawit. “Inikan masalah orang tertarik menanam jenis komoditas apa, sebab banyak orang hanya akan menanam komoditas yang menguntungkan,” kata Petrus yang sebelumnya aktif di lembaga riset independen tentang kehutanan Tropenbos.

Sebab itu ada sebagian tudingan miring kepada komoditas kelapa sawit lebih banyak bersifat politis. Tutur Petrus Gunarso, jika tujuannya politis jangan dipikirkan secara teoritis, namun dipikirkan secara rasional. Saat ini apalagi kelapa sawit berkembang pesat, tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan food, tetapi juga feed untuk ternak dan fuel, yang kemudian dianggap sebagai komoditas yang bisa mengancam komoditas minyak nabati produksi benua sub tropis.

Petrus berpendapat, jika hendak memperbaiki tata kelola lahan maka perlu menerapkan pendekatan tata ruang. Dari awal kebijakan tata ruang nasionak kerap berubah setiap 5 tahun, sejatinnya yang berubah setiap 5 tahun itu yang sifatnya permanen. “Biasanya di Indonesia, jika ada kawasan hutan yang sudah rusak dan sudah tidak ada tegakan, yang dilakukan adalah menurunkan statusnya menjadi Areal Penggunaan Lain (APL), padahal seharusnya segera dilakukan penanam kembali,” katanya.

Jika kondisi itu terus berlangsung, maka kondisi luasan kawasan hutan akan terus tergerus dan berhanti menjadi lahan APL. Seajtinya pemerintah melihat ini dengan baik dan benar, misalnya setiap 5 tahun sekali dilakukan perbaikan kawasan hutan bukannya malah dibongkar dan dirusak. Penertibatan tata ruang sudah semestinya dilakukan.  “Jangan tiap 5 tahun ganti, itu kan kacau, harus dilihat secara lanskap secara keseluruhan lalu ditata,” kata Petrus yang saat ini menjadi direksi di salah satu perusahaan kayu dan bubur kertas nasional.  (T2)

Sumber : http://www.infosawit.com/news/6758/sawit-bukan-dari-membuka-hutan



Berita : Terkait