PT. Perkebunan Nusantara XIII As a Knowledge-Based Agribusiness Company
Bahasa : en / id
Smoke
Agroinput Kimia Berdampak Pada Tanah Kebun Kelapa Sawit

11 Juni 2019 - 07:54:11 | Unit Kerja : Kantor Direksi | by : uud | views : 60

Agroinput Kimia Berdampak Pada Tanah Kebun Kelapa Sawit

10 June 2019 | by : Administrator

InfoSAWIT, JAKARTA - Kebanyakan praktisi perkebunan lebih memilih pemakaian agroinput berbasis kimia (sintetis) tanpa menyadari pencemaran agroekosistem tanah yang berdampak kepada tanaman seperti keasaman pH tanah menjadi meningkat, sampai dengan rusaknya jaringan akar.

Dampak buruk dari penggunaan agroinput kimia akan meninggalkan residu bahan kimia pada tanah sehingga membunuh mikroorganisme dan cacing tanah, memadatkan struktur tanah sehingga mengurangi oksigen bagi perkembangan organisme dan mikroorganisme tanah yang bermanfaat bagi tanaman. Dengan berkurangnya mikroorganisme predator hama penyakit, maka serangan hama dan penyakit dapat berkembang dengan leluasa.

Semua permasalahan yang ada dapat diatasi dengan aplikasi pupuk organik yang stabil dan berkualitas (tentu saja tepat) seperti pupuk MOAF® dan pengendali hayati seperti CHIPS®  yang diformulasi spesifik dan khusus sesuai dengan kebutuhan kebun.

Studi Kasus dilakukan di daerah Kisaran, Sumatera Utara, dengan jenis tanah PMK, dimana tahun tanam 2017 yang dimiliki perusahaan sawit swasta

Pada November 2017, ditemukan tanaman TBM yang bermasalah dengan ciri-ciri tanaman pada bagian bawah pangkal batang pelepah dilubangi oleh Oryctes. Titik tumbuh tanaman terhenti, pucuk tanaman mengering dan pada bagian pucuk terdapat anak daun seperti potongan berbentuk zig-zag. Pada serangan berat, titik tumbuh pada bagian pucuk menjadi mati dan pohon tidak dapat berkembang sehingga dapat menyebabkan kematian. Nilai pH tanah rendah (pH 4) sehingga menyebabkan tanaman kekurangan unsur hara . Setelah melalui proses analisa dan formulasi oleh PKT, maka diaplikasikan pupuk MOAF® dan pengendali hayati Oryctes CHIPS® 3.1 pada Februari 2018.

Pengamatan setelah 6 bulan aplikasi, pH tanah telah stabil (pH 6,5), penyerapan hara sudah optimal sehingga daun mulai menghijau mengkilat dimana pucuk daun muda telah membuka, dan tidak ditemukan serangan Oryctes kembali.

Uji coba juga dilakukan di daerah Jambi dengan jenis tanah lempung berpasir, dimana tahun tanam 2011, kebun sawit tersebut  milik perusahaan sawit swasta

Pada Oktober 2017, diketahui adanya infeksi Ganoderma dimana terdapat basidiokarp Ganoderma pada pangkal batang, warna daun kuning dan terlihat akumulasi 3 daun tombak yang tidak membuka serta perolehan produksi cukup rendah (banyak bunga jantan). Setelah melalui proses analisa dan formulasi oleh PKT, maka pada Januari 2018 diaplikasikan MOAF® untuk suplai hara makro dan mikro guna memperbaiki perkembangan vegetatif pohon kemudian dilanjutkan aplikasi CHIPS® 2.1 untuk pengendalian Ganoderma. Setelah 4 bulan aplikasi, serangan Ganoderma terkendali dimana pertumbuhan akar baru sudah membaik sehingga penyerapan hara menjadi lebih optimal.

Pengamatan terakhir kami pada Desember 2018, pohon yang diaplikasi secara rutin dengan MOAF® dan CHIPS® 2.1 memiliki produksi yang lebih baik dibandingkan dengan blok kontrol.

Sumber : https://www.infosawit.com



Berita : Terkait