PT. Perkebunan Nusantara XIII As a Knowledge-Based Agribusiness Company
Bahasa : en / id
Smoke
Buah kelapa sawit

12 Desember 2017 - 09:56:00 | Unit Kerja : Kantor Direksi | by : uud | views : 401

Kemitraan Mampu Dongkrak Ekonomi Petani Sawit

12 December 2017 | Administratorimg

InfoSAWIT, JAKARTA - Guna mengembangkan komoditas pertanian, sejumlah negara termasuk negara adidaya, Amerika Serikat, memberikan lahan seluas-luasnya untuk dibudidayakan oleh masyarakat. Misalnya di AS pada 1862 lalu telah mengeluarkan kebijakan yang dinamakan Homestead Act, yang mana kala itu pemerintah Amerika Serikat mendorong kepemilikan lahan untuk pertanian bagi petani dengan pembagian 65 hektare (ha) untuk satu keluarga. Faktanya, program itu kini telah mengantarkan AS sebagai negara pengekspor utama kedelai dan jagung di dunia.

Selain AS, di Brasil pun menerapkan kebijakan serupa lewat Land Act yang resmi diluncurkan pada 1998, tepatnya untuk negara bagian Mato Grosso, guna dijadikan perkebunan kedelai. Kebijakan itu telah mengantarkan Brasil sebagai negara pengguna bahan bakar nabati tertinggi di dunia. Negara ini berhasil melepas ketergantungan dari sumber minyak bumi.

Di Asia Tenggara, Malaysia melakukan langkah serupa, lewat kebijakan pembukaan lahan pertanian dan perkebunan yang dikelola Federal Land Development Authority (FELDA) tahun 1956. Dengan konsep memberdayakan masyarakat dengan memberikan lahan seluas 4 hektare (ha) per kepala keluarga untuk dijadikan perkebunan sawit. Masyarakat juga diberi pinjaman modal, dengan masa pengembalian selama 20 tahun.

Kini, FELDA telah menjadi korporasi besar dengan mengelola lahan kelapa sawit seluas 811.140 ha. Dari sebelumnya kebun sawit berlokasi di Peninsular, sekarang meluas hingga ke Sarawak dan Sabah di Malaysia timur. Bahkan, FELDA sudah berekspansi ke Indonesia.

Indonesia pun sejatinya telah menerapkan kebijakan serupa, misalnya lewat program Nucleus Estate Smallholder (NES) atau Perusahaan Inti Rakyat Perkebunan (PIR-Bun), yang diadopsi dalam mengembangkan perkebunan.

Semenjak program NES dirancang pemerintah periode tahun 1974/1975 dan mulai diperkenalkan pertama kali dalam bentuk proyek NES/PIRBUN di daerah perkebunan di Alue Merah (Aceh Utara) dan Tabalong (Sumatera Selatan) pada periode 977/1978. Konsep ini terus mengalami kemajuan pesat.

Sejatinya tujuan utama kemitraan ialah untuk mengangkat taraf perekonomian petani dan keluarganya dengan cara meningkatkan produksi dan pendapatan usaha tani. Dalam konsep ini perusahaan perkebunan swasta dan pemerintah sebagai inti, sedangkan perkebunan rakyat sebagai plasma atau peserta.

Konsep PIR-Bun pun berevolusi menjadi PIR-Trans, sesuai Instruksi Presiden Republik Indonesia (Inpres) No.1 tahun 1986, tentang pengembangan perkebunan dengan pola PIR yang dikaitkan dengan program transmigrasi. Lantas, berubah  menjadi program Kredit Koperasi Primer untuk Anggota (KKPA), dan terakhir berubah menjadi program Revitalisasi Perkebunan tahun 2006, yang dihentikan pada 2014 lalu.

Kendati tidak ada program kemitraan yang digagas pemerintah lagi, toh dilapangan para pelaku perkebunan kelapa sawit tetap melakukan kemitraan dengan masyarakat, seperti yang dilakukan salah satu perusahaan perkebunan kelapa sawit nasional, BGA Group di wilayah Ketapang. Menjadi menarik, petani yang diajak bermitra sebelumnya selama hampir sewindu dihadapkan pada kondisi ekonomi yang tidak menentu akibat bangkrutnya perusahaan inti sebelumnya. Bagaiman kemudian pola kemitraan itu kembali dibangun? Untuk lebih jelasnya bisa dibaca pada Rubrik Fokus pada InfoSAWIT edisi Agustus 2017. (T2)

Sumber : http://www.infosawit.com/news/7435/kemitraan-mampu-dongkrak-ekonomi-petani-sawit



Berita : Terkait