PT. Perkebunan Nusantara XIII As a Knowledge-Based Agribusiness Company
Bahasa : en / id
Smoke
Perkerja sawit

20 Desember 2017 - 09:43:08 | Unit Kerja : Kantor Direksi | by : uud | views : 160

Darurat Pekerja Sawit, Tahun 2030 Butuh 43 Juta Pekerja

19 December 2017 | Administratorimg

InfoSAWIT, JAKARTA - Selain isu lingkungan, ada hal lain yang perlu juga diperhatikan stakeholder kelapa sawit nasional. Sebab dengan terus bertumbuhnya luasan lahan perkebunan kelapa sawit nasional, jelas kebutuhan tenaga kerja di perkebunan kelapa sawit pun akan terdongkrak.

Bila pemenuhan pasokan tenaga kerja di sektor sawit tidak segera diantisipasi, akan memunculkan berbagai kendala. Bisa jadi, ketiadaan tenaga kerja di sektor sawit akan menjadi masalah serius bagi pertumbuhan perkebunan kelapa sawit nasional dikemudian hari.

Minimnya ketersediaan tenaga kerja di sektor sawit, sejatinya telah dialami industri perkebunan kelapa sawit nasional kendati sampai saat ini kadarnya belum begitu memperihatinkan.

Menjadi kabar yang tidak asing bilamana sekelompok pekerja di perusahaan sawit pindah ke perusahaan sawit lainnya, secara bersama-sama. Atau sekedar mendapatkan pekerja sawit dengan cara “membajak” karyawan dari perusahaan perkebunan lain. Hal ini banyak terjadi di pekebunan kelapa sawit di Indonesia. Dalam kasus demikian, biasanya tenaga pekerja yang dibutuhkan adalah tenaga pekerja profesional yang sudah paham benar dengan perkebunan kelapa sawit.

Tentu saja, memperoleh tenaga kerja lewat jalan demikian, tidaklah bisa dipertahankan langgeng terus menerus. Apalagi pertumbuhan areal perkebunan kelapa sawit terus bertambah setiap tahunnya. Sebab itu sejatinya dibutuhkan roadmap dan design yang disiapkan dengan baik untuk menghasilkan lulusan SDM khusus untuk perkebunan kelapa sawit yang siap di lapangan.

Lantas, sebetulnya seberapa besar kebutuhan tenaga pekerja di sektor perkebunan kelapa sawit? Dewan Masyarakat Sawit Indonesia (DMSI) sebelumnya pernah memprediksi, kebutuhan sumber daya manusia (SDM) di sektor sawit termasuk di pabrik kelapa sawit (PKS) semenjak 2011 silam. Prediksi itu tidak memperhitungkan kebutuhan tenaga pekerja untuk direksi serta bagian keuangan dan administrasi.

Tahun 2011 silam, diperkirakan pekerja langsung di on farm terdapat sebanyak 3,8 juta orang, sementara tenaga kerja di pabrik kelapa sawit mencapai 58.067 orang, dengan asumsi, terdapat sekitar 587 unit PKS.

Dengan bertumbuhnya luas areal perkebunan kelapa sawit, tenaga pekerja pelaksana di on farm tahun 2030 diperkirakan terus bertambah menjadi sekitar 6,3 juta orang, atau terdapat penambahan 2.056 ribu angkatan kerja dibanding tahun 2011 silam.

Peningkatan ini tampaknyaakan terus terjadi setiap tahun. Bahkan di 2030, diprediksi,akan ada kebutuhan penambahan angkatan kerja on farm sekitar 2 juta orang, sementara di PKS ada tambahan kebutuhan tenaga kerja sebanyak 111.128 juta orang, dengan asumsi PKS di Indonesia telah mencapai 1.123 unit.

Jelas, pertumbuhan kebutuhan tenaga kerja di perkebunan kelapa sawit (on farm) termasuk di pabrik kelapa sawit tidak bisa dianggap enteng. Apalagi investasi tenaga kerja di perkebunan kelapa sawit mencapai 25% dari total investasi perkebunan kelapa sawit, setelah pupuk.

Direktur Utama PT Austindo Nusantara Jaya Agri, Geetha Govindan mengakui, tantangan kedepan yang akan dihadapi industri kelapa sawit nasional adalah pasokan tenaga kerja. Ini terjadi karena bagi para pencari kerja, sektor perkebunan terkadang tidak menjadi pilihan utama sebagai cara dalam meniti karir. Masih banyak angkatan kerja tertarik bekerja di kota ketimbang di pelosok daerah.

Selain itu citra perkebunan kerap dicap sebagai pekerjaan di daerah pelosok dengan minim fasilitas dan hiburan. Selain citra perkebunan, kesulitan pasokan tenaga kerja pula diakibatkan terjadinya peningkatan ekonomi wilayah setempat.

Kondisi demikian kian mempersulit sektor perkebunan dalam mendapatkan tenaga kerja. Harus diakui, peningkatan ekonomi  di wilayah setempat berdampak positif bagi kehidupan masyarakat perdesaan. Namun dilain sisi, kondisi ini berdampak negatif pada pemenuhan pekerja pada sektor perkebunan. Alasannya, masyarakat dengan kemampuan ekonomi menengah akan lebih memilih tinggal di kota ketimbang bekerja di pelosok perdesaan. “Bila ekonomi masyarakat terus meningkat, akan jarang ditemui orang bekerja jadi tukang panen sawit, ambil berondolan dan lainnya,” kata Geetha, kepada InfoSAWIT belum lama ini di Jakarta. (T2)

Sumber : http://www.infosawit.com/news/7469/darurat-pekerja-sawit--tahun-2030-butuh-43-juta-pekerja