PT. Perkebunan Nusantara XIII As a Knowledge-Based Agribusiness Company
Smoke
Areal perkebunan kelapa sawit

20 Januari 2021 - 10:47:33 | Unit Kerja : Kantor Direksi | by : uud | views : 424

Menilik Investor Sawit Malaysia di Indonesia

20 January 2021 | by : Administrator

InfoSAWIT, JAKARTA - Praktik pembelian kebun sawit oleh investor asing yang terus  berlangsung, betapa tidak, telah semakin banyak saja kebun sawit berskala kecil jatuh ke tangan investor asing.  Berdasarkan data Pusat Data InfoSAWIT (Desember 2012), sebanyak 18 kelompok usaha perkebunan sawit atau perusahaan investasi Malaysia sudah menguasai 1,46 juta ha lahan sawit di Indonesia. Sime Darby dan IOI tercatat sebagai pemegang porsi terbesar.

Luasan perkebunan sawit Indonesia yang sudah dikuasai investor asing memang simpang siur. Angka paling optimistis menyebut seluas 3 juta ha. Ada pula yang menyebut 2 juta ha. Tahun 2006, investasi Malaysia di perkebunan sawit Indonesia ditengarai sudah mencapai Rp 3,2 triliun, dengan penguasaan lahan 800.000 ha, atau 14,5% dari total luas perkebunan sawit nasional Malaysia bukan satu-satunya, karena pemodal asing yang mengadu peruntungan di bisnis sawit Indonesia datang dari banyak negara, seperti Singapura, Inggris, Belgia, Amerika Serikat, Kuwait, Thailand, bahkan Myanmar.

Hanya saja, investor Malaysia yang paling dominan. Gelombang investasi Malaysia ke perkebunan sawit Indonesia sudah berlangsung sejak 1990-an. Hampir semua korporasi besar sawit masuk, seperti Sime Darby (gabungan Golden Hope Plantations dan Kumpulan Guthrie), IOI, Agro Hope, dan KLK Kepong. Ada pula mereka yang berbendera perusahaan investasi, salah satunya Pinehill Ventures Limited.

Bahkan, pengelola keuangan seperti Khazanah dan Tabung Haji (TH) turut merambah  bisnis sawit di negeri ini  Sime Darby, pemain utama CPO yang memproduksi 2,4 juta ton atau 6% dari total produksi tahunan dunia dengan lahan produktif 522.489 ha, boleh dibilang sebagai “perintis” ekspansi ke RI. Sime Darby melalui PT Minamas Plantations (dikukuhkan pada 2001) kini beroperasi di 8 provinsi di Pulau Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi, dengan menguasai total lahan 299.263 ha, tapi baru 68% (204.845 ha) yang ditanami sawit beragam usia.

Apa alasan investor sawit Malaysia “menyerbu” Indonesia? Salah satunya, karena cadangan lahan di negara itu sudah menipis. Kalaupun masih tersedia lahan, harganya naik hingga empat kali.

Dikutip Majalah InfoSAWIT, kualitas tanah di Malaysia juga tidak sebaik Indonesia, karena berupa tanah lempung padat yang menjadi sangat keras seperti batu ketika datang musim kemarau.  Berbeda dengan tanah di Indonesia yang subur, dengan ciri-cirinya yang sangat cocok untuk tanaman kelapa sawit, antara lain mengandung banyak lempung, permukaan air tanah cukup dalam, tidak berbatu, solum cukup  dalam, dan tingkat keasaman tanah  (pH) 4-6. Jenis tanah yang baik untuk kebun sawit juga tersedia di Indonesia, yakni tanah latosol, ultisol, ulvial, tanah gambut saprik, dataran pantai, serta tanah muara sungai.

Ekspansi perusahaan sawit Malaysia ke Indonesia tidak terlepas pula dari kebijakan “Look-East Policy” yang dikumandangkan PM Mahathir Mohammad tahun 1982. Akhir 1990-anperusahaan Malaysia mulai unjuk gigidi sektor perkebunan negara tetangga, Indonesia dan Filipina. Di Indonesia Kumpulan Guthrie mengakuisisi kebun sawit milik Grup Salim yang berlokasi di Musi Rawas, Sumatera Selatan, sedangkan Tabung Haji masuk ke Filipina dengan membangun kebun sawit di wilayah Mindanao. (T2)

Sumber : https://www.infosawit.com