PT. Perkebunan Nusantara XIII As a Knowledge-Based Agribusiness Company
Bahasa : en / id
Smoke
Hasil Panen Kelapa Sawit

02 February 2018 - 10:38:51 | Unit Kerja : Kantor Direksi | by : uud | views : 315

Produksi Minyak Kelapa Sawit di Indonesia Meningkat 18 Persen, Ini PR Sumsel yang Harus Dibenahi

1 Februari 2018 14:32

TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG,---Sepanjang tahun 2017, Industri sawit Indonesia mencatatkan kinerja yang baik.

Berdasarkan data yang diolah Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), produksi CPO tahun 2017 mencapai 38,17 juta ton dan PKO sebesar 3,05 juta ton sehingga total keseluruhan produksi minyak sawit Indonesia adalah 41,98 juta ton.

Angka ini menunjukkan peningkatan produksi sebesar 18 persen jika dibandingkan dengan produksi tahun 2016 yaitu 35,57 juta ton yang terdiri dari CPO 32,52 juta ton dan PKO 3,05 juta ton.

Sementara itu stok minyak sawit Indonesia pada akhir tahun 2017 adalah 4,02 juta ton.

Sementara itu harga rata-rata CPO tahun 2017 tercatat US$ 714,3 per metrik ton atau meningkat 2 persen dibandingkan dengan harga rata-rata tahun 2016 yaitu US$ 700,4 per metrik ton.

Menurut ketua Gapki Sumsel Hari Hartanto, ekspor dari Sumsel berapa jumlahnya yang tepat angkanya, berada di dinas perdagangan dan informasinya.

"Namun selama ini kontribusi ekspor Sumsel mencapai sekitar 10 persen secara nasional," kata Hari, Kamis (1/2/2018).

Diterangkannya, nilai ekspor langsung dari Sumsel saat ini terkendala dengan infrastruktur pelabuhan, yang tidak mendukung, namun pasti produk CPO Sumsel menjadi bagian, dari meningkatnya ekspor nasional yang dilakukan melalui pelabuhan ekspor di Indonesia.

Diterangkannya, berdasarkan data Dinas Perkebunan Sumsel, dimana ada 70 Pabrik Kelapa Sawit dengan kapasitas 3.900 ton/jam, maka prediksi produksi CPO Sumsel sudah dapat mendekati 5 juta ton/thn.

"Hal ini sangat mungkin, karena didukung perkembangan perkebunan swadaya masyarakat, yang menggembirakan," ujarnya

Berdasarkan data yang diolah GAPKI dari berbagai sumber (Kementerian ESDM, Kementan, Kemenperin, BPS, GAPKI, APROBI, GIMNI, APOLIN, AIMMI dan BPDPKS) ekspor minyak sawit Indonesia (CPO dan turunannya) tidak termasuk biodiesel dan oleochemical pada tahun 2017 meningkat cukup signifikan yaitu sebesar 23 persen atau dari 25,11 juta ton pada tahun 2016 meningkat menjadi 31,05 juta ton di tahun 2017.


Nilai sumbangan devisa minyak sawit juga meningkat seiring kenaikan volume ekspor dan harga yang cukup baik, Tahun 2017 nilai ekspor minyak sawit Indonesia menembus 22,97 milyar dollar AS atau meningkat 26 persen dibandingkan tahun 2016 yang hanya mencapai 18,22 milyar dollar AS. Nilai ekspor minyak sawit tahun 2017 ini merupakan nilai tertinggi yang pernah dicapai sepanjang sejarah ekspor minyak sawit Indonesia.

Pada tahun 2017, hampir semua negara tujuan utama ekspor minyak sawit Indonesia mencatatkan kenaikan permintaan minyak sawitnya. India mencatatkan kenaikan permintaan yang signifikan baik secara volume maupun persentase. Sepanjang tahun 2017 India meningkatkan permintaan minyak sawitnya menembus 7,63 juta ton atau naik 1,84 juta ton atau naik 32 persen dibandingkan dengan tahun 2016 dimana total permintaan sebesar 5,78 juta ton.

Ekspor ke negara-negara Afrika juga mencatatkan peningkatan 50 persen (2016 : 1,52 juta ton, 2017 : 2,29 juta ton).

Kenaikan terus diikuti oleh China sebesar 16 persen (2016 : 3,23 juta ton, 2017 : 3,73 juta ton), Negara-negara Uni Eropa naik 15 persen (2016 : 4,37 ton, 2017 : 5,03 juta ton), Pakistan naik 7 persen (2016 : 2,07 juta ton, 2017 : 2,21 juta ton), Amerika Serikat naik 9 persen (2016 : 1,08 juta ton, 2017 : 1,18 juta ton), Bangladesh naik 36 persen (2016 : 922,85 ribu ton, 2017 : 1,26 juta ton) dan Negara-negara Timur Tengah naik 7 persen (2016 : 1,98 juta ton, 2017 : 2,12 juta ton).

Sepanjang tahun 2017, kekhawatiran akan adanya kebakaran lahan dapat teratasi dengan baik, hampir tidak ada kasus kebakaran di perkebunan kepala sawit. GAPKI dan perusahaan anggotanya telah melakukan berbagai upaya mencegah terjadi kebakaran lahan dan hutan (karlahut) di sekitar konsesi dengan pembentukan Desa Siaga Api diberbagai daerah dan sampai pada akhir 2017 telah tercatat lebih dari 572 Desa Siaga Api yang dibentuk oleh perusahaan anggota GAPKI dengan berbagai nama. Pelatihan antisipasi dan mitigasi karlahut juga dilaksanakan di berbagai daerah. Kegiatan ini akan terus ditingkat dan dilanjutkan untuk ke depannya.

Sumber : http://sumsel.tribunnews.com



Berita : Terkait