PT. Perkebunan Nusantara XIII As a Knowledge-Based Agribusiness Company
Bahasa : en / id
Smoke
Ispo

20 April 2018 - 09:02:40 | Unit Kerja : Kantor Direksi | by : uud | views : 142

Menilik Isi Perpres Standar Sawit Berkelanjutan

19 April 2018 | by : Administrator
 
InfoSAWIT, JAKARTA -Upaya penguatan kebijakan praktik budidaya perkebunan kelapa sawit yang ramah lingkungan dan sosial yang terangkum dalam kebijakan Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) telah dilakukan semenjak pertengahan tahun 2016 lalu melalui berbagai diskusi dan dialog.
 
Dua kelompok kepentingan dari developmentalis dan environmentalis kerap memberikan kontribusi dalam penguatan kebijakan sawit berkelanjutan ala Indonesia tersebut. Berbagai diskusi dan dialog digelar dengan mengambil tempat diberbagai wilayah di Indonesia, seperti Jakarta dan Bogor serta Konsultasi Publik di Region Sumatera, Region Kalimantan, Region Sulawesi dan Region Papua.
 
Hanya saja selepas Maret sampai menjelang akhir tahun 2017, proses dialog penguatan ISPO seolah mulai tertutup. Entah apa alasannya. Pada akhirnya, kondisi ini pula mendorong Kelompok Perwakilan Masyarakat Sipil untuk Industri Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia, yang terdiri sekitar 30 lembaga nirlaba lingkungan dan sosial, mengingatkan kembali pemerintah untuk kembali transparan dan aktif dalam upaya penguatan kebijakan ISPO tersebut.
 
Terlepas dari berbagai konstilasi yang terjadi, berdasarkan penelusuran InfoSAWIT, belum lama ini, dari draft Peraturan Presiden (Perpres) tentang Sistem Sertifikasi Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia per Januari 2018, berikut isi Rancangan Perpres tersebut.
 
BAB II memuat Ruang Lingkup, Tujuan dan Prinsip ISPO, yakni, Pasal 2 mencatat, Ruang lingkup Peraturan Presiden ini meliputi Sertifikasi ISPO, tata kelola, keberterimaan dan daya saing pasar, pembiayaan, dan sanksi yang diberikan.
 
Pasal 3 mencatat, penyelenggaraan ISPObertujuan untuk, pertama, memastikan dan meningkatkan pengelolaan, serta pengembangan perkebunan kelapa sawit sesuai prinsip dan kriteria ISPO yang ditandai dengan melaksanakan kepatuhan (compliance) Pelaku Usaha Perkebunan Kelapa Sawit terhadap peraturan perundang-undangan.
 
Kedua, memberikan kontribusi dalam rangka meningkatkan pembangunan ekonomi, sosial, budaya, dan kualitas lingkungan hidup melalui pengelolaan perkebunan kelapa sawit berkelanjutan.
 
Serta ketiga, meningkatkan keberterimaan produk dan daya saing perkebunan kelapa sawit Indonesia di pasar lokal, regional dan global. Dan keempat, memberikan kontribusi terkait komitmen Pemerintah untuk penurunan emisi gas rumah kaca yang tertuang dalam Intended Nationally Determine Contribution (INDC).
 
BAB III mengenai Sertifikasi ISPO, sesuai pasal 5 mencatat, Sertifikasi ISPO dilakukan secara wajib terhadap Usaha yaitu: (a) bagi Usaha Budidaya Tanaman Perkebunan Kelapa Sawit yang terintegrasi dengan usaha pengolahan hasil perkebunan; (b) Usaha Budidaya Tanaman Perkebunan Kelapa Sawit; (c) Usaha Pengolahan Hasil Perkebunan Kelapa Sawit yang melakukan usaha Pengolahan Hasil Perkebunan. Semua Sertifikasi ISPO terhadap Perusahaan Perkebunan Kelapa Sawit ini dilakukan oleh masing-masing Perusahaan Perkebunan Kelapa Sawit.
 
Sementara Pasal 5 ayat 2 mencatat, sertifikasi ISPO terhadap Usaha Kebun Plasma dilakukan secara berkelompok dan menjadi bagian dari tanggung jawab Perusahaan Perkebunan Kelapa Sawit yang menjadi perusahaan inti. (T2)
 
Sumber : https://www.infosawit.com



Berita : Terkait