PT. Perkebunan Nusantara XIII As a Knowledge-Based Agribusiness Company
Bahasa : en / id
Smoke
Indonesia - Saatnya Memiliki Jurnal Sawit Internasional

04 Juni 2018 - 08:32:56 | Unit Kerja : Kantor Direksi | by : uud | views : 213

Indonesia - Saatnya Memiliki Jurnal Sawit Internasional

04 June 2018 | by : Administrator

InfoSAWIT, BOGOR - Indonesia kini tercatat sebagai  negara produsen minyak sawit terbesar di dunia. Berdasarkan data yang diolah Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia(GAPKI), produksi CPO tahun 2017 mencapai 38,17 juta ton dan PKO sebesar 3,05 juta ton sehingga total keseluruhan produksi minyak sawit Indonesia adalah 41,98 juta ton. Dalam sejarah perkembangan peradapan manusia khususnya di bidang pertanian, pertumbuhan industri sawit merupakan pertumbuhan industri pertanian paling cepat. Prestasi produksi minyak sawit hingga 42 juta ton hanya dicapai dalam waktu 170 tahun setelah kelapa sawit ditanam sebagai tanaman koleksi di Kebun Raya Bogor pada tahun 1848.

Produksi minyak sawit tersebut dicapai pada kondisi yang belum optimal. Artinya, pengembangan industri sawit dari hulu sampai hilir belum efisien, banyak mendapatkan tekanan, baik dari dalam maupun dari luar negeri, terganjal oleh berbagai macam regulasi, belum menerapkan teknologi terkini, dan organisai perkelapasawitan belum dibangung dengan kuat. Jika berbagai permasalahan tersebut teratasi, produksi sawit nasional saat ini bisa dua kali lipat dari nilai tersebut di atas.

Berbagai permasalahan tersebut dapat diatasi melalui penerapan penelitian dan pengembangan yang terencana, dan terlaksana dengan baik, serta dengan dukungan dana yang mencukupi. Tidak hanya produksi saja, tetapi kualitas minyak sawit Indonesia juga perlu kita tingkatkan sehingga Indonesia menjadi negara yang dikenal dengan kualitas minyak sawit yang paling prima. “Tentu saja, tidak hanya CPO dan PKO saja yang menjadi perhatian kita, tetapi ke depan industri hilir harus menjadi andalan kita,” kata Ketua Umum MasyarakatPerkelapasawitan Indonesia(MAKSI), Darmono Taniwiryonobelum lama ini di Bogor.

Demikian juga berbagai produk lain dari batang, daun, tandan kosong, serabut, dan cangkang harus diciptakan dengan nilai tambah yang tinggi. Dengan demikian pengusahaan kelapa sawit ke depan menjadi semakin sustainable. “Harapan-harapan tersebut hanya bisa terwujud melalui penelitian dan pengembangan yang terencana dan terlaksana dengan baik, serta dengan dukungan dana yang mencukupi,” kata Darmono. (T2)

Sumber : https://www.infosawit.com



Berita : Terkait