PT. Perkebunan Nusantara XIII As a Knowledge-Based Agribusiness Company
Bahasa : en / id
Smoke
Crude Palm Oil

21 Juni 2018 - 07:39:18 | Unit Kerja : Kantor Direksi | by : uud | views : 77

Uni Eropa Butuh Minyak Sawit (CPO) dan Turunannya.

21 June 2018 | by : Administrator

InfoSAWIT, JAKARTA - Fenomena pasar Uni Eropa di medio 1990an, memang menarik untuk selalu diperbincangkan, dimana kebutuhan minyak nabati Uni Eropa yang kian menguat, selalu membutuhkan pasokan minyak nabati lainnya dari produsen di luar Uni Eropa. Tingginya permintaan akan produk minyak nabati dari masyarakat Uni Eropa secara langsung membuka peluang produk minyak nabati lainnya seperti CPO dan produk turunannya.

Medio tahun 2000an, pasar minyak nabati Uni Eropa juga kian menarik, pasalnya, kebutuhan minyak nabati terutama produk CPO dan turunannya kian meningkat. Kendati permintaan konsumen dari masyarakat Uni Eropa meningkat, fenomena terbalik justru berasal dari gencarnya berbagai isu negatif mengenai minyak sawit, dari aktivis lingkungan dan sosial di Uni Eropa.

Gencarnya berbagai isu negatif minyak sawit itu, juga bermuara, dari kian tingginya permintaan pasar Uni Eropa akan keberadaan produk turunan dari CPO. Lantaran, berbagai produk turunan CPO, juga kian diminati berbagai industri turunan minyak nabati, yang telah beroperasi selama puluhan tahun lamanya, dengan menggunakan bahan baku bersumber dari dalam negerinya.

Tentu saja, keberpihakan industri hilir minyak nabati di Uni Eropa, kian mengerek tumbuhnya permintaan pasar Uni Eropa akan CPO dan produk turunannya. Lantaran, hampir sebagian besar industri turunan minyak nabati di Uni Eropa, telah menjadikan produk CPO dan turunannya, sebagai bahan baku alternatif yang dibutuhkan untuk industri minyak nabati Uni Eropa.

Wajar pula, bila kemudian, parlemen Uni Eropa, yang anggotanya banyak memiliki backgroud aktivis lingkungan dan sosial selalu mengecam akan keberadaan produk CPO dan turunannya. Lantaran, masyarakat Uni Eropa yang memiliki profesi sebagai petani perkebunan yang menghasilkan minyak nabati di dalam negeri, justru mengalami stagnasi permintaan.

Sebagai gambarannya, tatkala permintaan masyarakat Uni Eropa dan Industri turunan minyak nabati meningkat, sedangkan produksi minyak nabati yang dihasilkan petani dalam negeri terbatas, maka terjadi kenaikan harga komoditas perkebunan, seperti minyak soybean, yang akan berdampak langsung terhadap kesejahteraan petaninya. (Kris Hadisoebroto/Dewan Redaksi InfoSAWIT/Pengamat Industri Hilir Sawit)

Sumber : https://www.infosawit.com



Berita : Terkait