PT. Perkebunan Nusantara XIII As a Knowledge-Based Agribusiness Company
Bahasa : en / id
Smoke
Petani Kelapa Sawit

22 Juni 2018 - 07:39:31 | Unit Kerja : Kantor Direksi | by : uud | views : 54

Sawit Mendongkrak Ekonomi “Orang Gunung”

22 June 2018 | by : Administrator

InfoSAWIT, BABEL - Mulanya, “Orang Rintis” atau biasa disebut “Orang Gunung” tinggal berpencar-pencar di dalam semak belukar di pegunungan. Mereka hidup dengan cara berladang (menanam lada), membuat atap rumbia, berburu, mencari ikan, dan sebagainya.

Singkat cerita, di tahun 1996 Departemen Sosial Sumatera Selatan mengumpulkan mereka yang tadinya hidup berpisah untuk tinggal di dalam satu komunitas. Mereka yang bersedia tinggal menetap diberikan fasilitas berupa rumah dan lahan sebanyak 2 Ha. Berbagai macam cara ditempuh Departemen Sosial agar mereka tidak lagi berpindah-pindah. Mulai dari memberi bibit padi, jagung, bahkan bantuan sembako rutin. Namun masih saja muncul keinginan Orang Gunung kembali ke lingkungan asalnya.

Gayung bersambut Depsos Sumsel melalui surat 1651/III-2/X/1996 mengeluarkan surat rekomendasi persetujuan pernyataan warga Pembinaan Kesejahteraan Sosial Masyarakat Terasing (PKSMT) menjadi petani sawit plasma pola Anak Angkat Bapak Angkat (ABA)-Kredit Koperasi Primer Anggota (KKPA) yang digagas oleh PT Sawindo Kencana (SWK) yang juga didukung oleh surat rekomendasi Bupati Kepala Daerah Tingkat II Bangka no 525.26/2010/V/1996 perihal pelaksanaan ABA-KKPA Kelapa Sawit.

Tercatat lebih kurang dari 100 kepala keluarga (KK) di Dusun Pelaik 94 di antaranya bersedia menjadi petani sawit binaan PT SWK. 6 KK lainnya tak menyatakan bersedia atau tidak termasuk kepala suku Orang Rintis, datuk (atuk) Hir. Sepeninggal atuk Hir pada tahun 2015, kini generasi penerusnya berharap dapat ikut menjadi bagian petani sawit binaan PT SWK.

Putra atuk Hir, Bain, merasa tidak mengerti kenapa dulu ayahnya tidak menjadi bagian petani sawit yang dibina perusahaan. Kehidupannya kini sangat sederhana, sehari-hari ia bekerja seadanya paling sering menyadap karet. Penghasilannya pun tidak menentu.

“Kini saya berharap dapat diberi kesempatan untuk bergabung bersama petani binaan PT SWK. Dahulu, pengetahuan saya tentang kelapa sawit masih sangat terbatas. Namun, setelah melihat para tetangga dan warga lainnya bisa menikmati hasil berkebun sawit, saya pun mau” katanya kepada InfoSAWIT, belum lama ini.

Lebih lanjut tutur Bain, dirinya berharap dengan lahan yang dimiliki saat ini Tuhan mengabulkan doanya untuk bisa menjadi petani sawit binaan PT SWK. “Saya tak mau hidup anak dan istri saya susah di kemudian hari. Dulu saya tidak bersekolah. Tapi sekarang, anak-anak saya harus bersekolah. Saya tidak ingin anak saya buta huruf. Saya ingin anak saya berguna membangun desa dan menjaga nama baik keluarga,” ungkap Bain dengan mata berkaca-kaca. (T1)

Sumber : https://www.infosawit.com



Berita : Terkait