PT. Perkebunan Nusantara XIII As a Knowledge-Based Agribusiness Company
Bahasa : en / id
Smoke
Menjadi Pembicara ASAFF, Ketum GAPKI Jelaskan Urgensi Kemitraan Sawit

29 Juni 2018 - 07:40:51 | Unit Kerja : Kantor Direksi | by : uud | views : 37

Menjadi Pembicara ASAFF, Ketum GAPKI Jelaskan Urgensi Kemitraan Sawit

Qayuum Amri Jun 28, 2018

JAKARTA, SAWIT INDONESIA – Perusahaan sawit telah berhasil membangun kemitraan yang akan menjadi kunci pengembangan sektor sawit nasional di masa depan. Melalui program kemitraan akan membantu peningkatan produktivitas perkebunan rakyat dengan penggunaan benih unggul dan perbaikan tata kelola perkebunan.

Joko Supriyono, Ketua Umum GAPKI, menjelaskan bahwa perkebunan rakyat semakin memainkan peran penting dalam industri kelapa sawit nasional. Saat ini, sektor sawit di Indonesia menghadapi dua tantangan besar. Pertama, tantangan eksternal terkait kampanye negatif, isu keberlanjutan, dan penerimaan pasar terutama di negara maju.

“Kedua adalah tantangan dari dalam negeri. Yaitu, produktivitas dan efisiensi yang secara rerata masih rendah dan pengembangan perkebunan rakyat,” kata Joko di Jakarta Convention Center (JCC), Kamis (28/6). Joko Supriyono menjadi salah satu pembicara dalam Asian Agriculture & Food Forum (ASAFF) 2018.

Menjawab tantangan tersebut, perusahaan perkebunan kelapa sawit harus menjalin kemitraan dan membantu perkebunan rakyat untuk meningkatkan produktivitas. “Program Research and Development, mekanisasi dan otomasi yang dilakukan perusahaan, juga perlu ditularkan kepada perkebunan rakyat sehingga produktivitas kebun mereka juga meningkat,” katanya.

Joko mengatakan, Indonesia masih kukuh menjadi negara produsen minyak sawit terbesar di dunia dengan total produksi tahun 2017 sebesar 42,04 juta ton. Dari total produksi tersebut, sekitar 31,05 juta ton terserap di pasar ekspor.

“Dengan produksi dan ekspor sebesar itu, minyak sawit adalah komoditas penyumbang devisa terbesar yang mencapai USD 22,9 miliar,” kata Joko.

Beberapa negara tujuan ekspor utama minyak sawit Indonesia pada tahun 2017 antara lain India (7,62 juta ton), Uni Eropa (5,03 juta ton), Tiongkok (3,73 juta ton), Afrika (2,28 juta ton), dan sejumlah negara lainnya.

Menurut Joko, permintaan terhadap minyak nabati akan naik hingga 5 juta ton setiap tahun di seluruh dunia. “Itu sebabanya, minyak sawit sebagai minyak nabati dengan produktivitas tertinggi, akan memberikan peran signfikan dalam konteks ketahanan pangan di dunia,” pungkas Joko.

Sumber : https://sawitindonesia.com



Berita : Terkait