PT. Perkebunan Nusantara XIII As a Knowledge-Based Agribusiness Company
Smoke
Foto: Ilustrasi Kelapa Sawit (CNBC Indonesia/Rivi Satrianegara)

26 Maret 2020 - 08:28:26 | Unit Kerja : Kantor Direksi | by : uud | views : 200

Sempat Koreksi Akibat Lockdown India, Harga CPO Balik Menguat

Market - Haryanto, CNBC Indonesia, 25 March 2020

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga komoditas minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) di pasar berjangka Malaysia pada Rabu (25/3/2020) berbalik menguat meski sempat dibayangi kekhawatiran penurunan permintaan importir terbesar CPO dunia yaitu India, yang memberlakukan penguncian wilayah (lockdown) selama tiga minggu.

Harga CPO di bursa komoditas Malaysia, dibuka turun 0,86% pada 2.333 ringgit per ton, dan kemudian stagnan di angka 2.353 ringgit per ton pada siang ini pukul 13:29 WIB. Namun pada sesi penutupan, harga komoditas utama Indonesia dan Malaysia tersebut menguat 1,44% ke level 2.387 ringgit per ton.

Koreksi di pembukaan terjadi setelah India menutup akses keluar-masuk ke negara tersebut (lockdown), merespons perkembangan wabah virus corona atau Covid-19. Perdana Menteri India Narendra Modi memerintahkan 1,3 miliar penduduk India tetap di dalam rumah mereka selama tiga minggu mulai Rabu (25/3/2020).

Namun, koreksi itu terpangkas dan bahkan berubah menjadi reli setelah Malaysia menunda operasi di sentra produksi minyak sawitnya. Wilayah Sabah yang merupakan penghasil CPO terbesar di Malaysia pada Selasa memerintahkan penutupan sementara perkebunan dan pabrik CPO di tiga distrik setelah tujuh pekerja dinyatakan positif terkena virus corona.

Malaysia dan Indonesia adalah produsen utama komoditas tersebut di dunia. Menurut surveyor kargo Intertek Testing Services (ITS), ekspor produk CPO sepanjang bulan ini (1-25 Maret) turun 13,6% menjadi 838.793 ton dibandingkan posisi pengiriman bulan sebelumnya (1-15 Ferbuari) sebanyak 970.760 ton.

Produksi CPO Indonesia, negara penghasil CPO terbesar dunia, diperkirakan mencapai 43,5 juta ton pada 2020 karena penurunan pemakaian pupuk dan curah hujan yang buruk. Sementara itu, ekspor minyak sawit diperkirakan turun karena pandemi COVID-19.

Di sisi lain, naiknya harga minyak mentah di tengah harapan bahwa AS akan segera mencapai kesepakatan atas bantuan stimulus senilai US$ 2 triliun guna memerangi wabah virus corona terhadap perekonomian, bisa menjadi pendongkrak naiknya harga CPO.

Menurut data Revinitif pukul 11:30 WIB, harga kontrak berjangka minyak jenis Brent menguat 2,43%, ke US$ 27,81 per barel. Sementara itu, harga kontrak jenis West Texas Intermediate (WTI) naik 2,96%, menjadi US$ 24,72.

CPO merupakan bahan dasar biodisel, yang merupakan substitusi bahan bakar dari minyak mentah fosil. Oleh karena itu, pergerakan minyak mentah juga akan mempengaruhi harga CPO.

TIM RISET CNBC INDONESIA



Berita : Terkait